Rabu, 02 Desember 2015

PEMATANG SALAM: KEINDAHAN DIBALIK KESEDERHANAAN

Bagi sebagian orang yang sedang merantau di daerah orang lain pasti pernah merindukan keluarga tercinta yang ditinggalkan. Tidak hanya itu tanpa disadari terkadang bukan hanya keluarga yang dirindukan tapi juga kampung halaman yang menyimpan cerita di masa kecil. Begitu pula yang ku rasakan saat ini, bahagia karena bisa kembali menginjakan kaki di tempat yang menjadi tempat bersejarah dalam hidup.

 Pematang Salam, nama yang unik bagi sebagian orang yang mendengarnya, tapi itulah nama kampung tempat kelahiranku. Kampung ini berada di tengah-tengah persawahan yaitu di Desa Mekarjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Nama  “Pematang” artinya jalan pembatas sawah, sedangkan “salam” berarti pohon salam, hal ini karena dahulu kampungku adalah pesawahan luas yang ditumbuhi pohon salam, sehingga jadilah Kampung Pematang Salam.

Untuk bisa sampai ke tempat tinggalku, aku biasa menaiki mobil Mikro atau yang biasa disebut PS. Tarifnya berkisar antara Rp. 20.000,- sampai Rp. 30.000,- tergantung dari kondekturnya. Hal ini sering membuatku kesal karena tarif yang ditawarkan oleh setiap kondektur berbeda-beda bahkan bisa lebih mahal, padahal statusku sebagai mahasiswa yang memiliki banyak pengeluaran. Waktu yang ditempuh pun relatif, tergantung dari kecepatan PS itu sendiri kira-kira 2-3 jam perjalanan dari Terminal Pakupatan Serang sampai Pasar Panimbang. Terkadang, perjalanan panjang tersebut melelahkan, tapi ketika memasuki wilayah Pandeglang, mata akan di suguhi pemandangan alam yang menakjubkan tak kalah dengan pemandangan alam yang berada di bandung. Hal ini karena Pandeglang masih berupa wilayah dataran tinggi yang masih hijau, sehingga jangan heran jika sepanjang jalan masih terdapat hutan-hutan atau perkebunan yang sejuk dan indah. Jalan yang dilewati pun tidak semuanya rata, terdapat beberapa belokan tajam dan tanjakan yang lumayan tinggi. Saat memasuki wilayah kecamatan panimbang, pemandangan berganti menjadi dataran rumput yang luas    Karena kampungku terpencil, maka aku harus turun di pasar panimbang dan melanjutkan dengan menggunakan Ojek sekitar 30 menit dengan tarif  Rp. 10.000



Tidak ada komentar:

Posting Komentar